Blog

Wisata Mistis Indonesia; Bukan Sekadar Uji Nyali!

wismis depan

wismis depanKamu suka berpetualang? Kalau iya, mungkin kamu harus mencoba wisata yang satu ini: Wisata Mistis. Yup, wisata mistis nggak hanya ada di luar negeri, lho. Di Indonesia pun ada. Nggak percaya? Nih, Kune berhasil mewawancarai Dady, salah satu penulis Penghuni Tanah Tabu yang juga member dari komunitas Wisata Mistis.

wismis

Kamu suka berpetualang? Kalau iya, mungkin kamu harus mencoba wisata yang satu ini: Wisata Mistis. Yup, wisata mistis nggak hanya ada di luar negeri, lho. Di Indonesia pun ada. Nggak percaya? Nih, Kune berhasil mewawancarai Dady, salah satu penulis Penghuni Tanah Tabu yang juga member dari komunitas Wisata Mistis.

– Hai, teman-teman Wismis. Dengan siapakah Kune ngobrol saat ini? (Semoga bukan sama mahluk halusnya ya. Hehehehe. Bercanda, lho.)
Dengan Dady nih, perwakilan salah satu penulis buku ‘Penghuni Tanah Tabu’.

– Kune mau ngobrol-ngobrol tentang komunitas Wismis ini. Boleh ya?
Dengan Senang hati.

– Sejak kapan, sih, komunitas ini terbentuk dan apa yang melatarbelakanginya?
Wisata Mistis ini berawal dari rasa penasaran dan keinginan untuk membuktikan mitos tentang tempat-tempat angker di Bandung. Tempat-tempat angker itu kita dapatkan dari salah satu thread yang terdapat di Kaskus. Tempat yang terkenal dengan Hantu Nancy di Bandung menjadi awal ekspedisi kita. Saat itu, hanya 5 – 7 orang saja yang ikut. Berbeda dengan sekarang, sekali ekspedisi minimal 30 orang yang ikut.

Nah, tepatnya 10 April 2011, setelah ekspedisi itu dibuatlah thread Wisata Mistis di forum tersebut sekaligus menjadi tanggal berdirinya Wisata Mistis. Saat awal ekspedisi kami belum memiliki konsep yang jelas, hingga akhirnya pada bulan November 2011 kami mematangkan lagi konsep Wisata Mistis menjadi lebih interkatif dan edukatif.

Kami memiliki cita-cita untuk menjadikan Wisata Mistis ini sebagai salah satu opsi destinasi wisata di Indonesia dan membantu mendongkrak potensi wisata di Indonesia, karena menurut kami setiap daerah memiliki potensi wisata dalam prespektif wisata mistis yang bila diolah dengan baik akan menarik banyak wisatawan untuk mengunjungi tempat tersebut. Oleh karenanya, kami tidak hanya ada di Bandung tapi sudah membentuk regional di beberapa daerah di Indonesia.

– Sudah berapa banyak sih, membernya dan menyebar di daerah mana saja?
Kalau buat member aktif di luar anggota partisipan, ada 400 orang lebih yang tersebar di beberapa kota, seperti Bandung, Balikpapan, Jambi, Melawi (Kalimantan Barat), Pantura (Cirebon, Indramayu, Subang Utara), dan Pariaman(Sumatera Barat).

– Ada syarat khusus kah untuk bisa bergabung dengan komunitas ini?
Syarat khusus tidak ada. Siapa pun bisa bergabung dengan komunitas ini.

– Dari tempat-tempat yang pernah dikunjungi, di manakah yang paling menyeramkan?
Kalau ngomongin menyeramkan, pasti setiap orang memiliki pendapat yang berbeda. Kalau versi saya pribadi, di vila ranca bentang 13. Saat itu, ada kejadian kita diketawain kuntilanak. Semua anggota yang ikut pun mendengar. Yang mengherankan, lokasi tersebut jauh dari pemungkiman warga dan nggak ada anggota cewek yang ikut.

– Nah, buku Penghuni Tanah Tabu kan sudah terbit nih. Ini buku pertama teman-teman Wismis ya? Bagaimana rasanya ketika pertama kali melihat buku ini hadir di antara kalian?
Iya ini buku pertama kami. Wah rasa campur aduk, antara percaya atau tidak kalau buku sudah jadi, karena buku ini sudah di nanti-nanti selama kurang lebih 2 tahun. Pokoknya, kami mau ngucapin terima kasih full buat para editor kece, Elly dan Irsyad, yang sudah membantu pembuatan buku ini hingga akhirnya bisa terbit juga.

– Ada kejadian aneh nggak saat pembuatan buku tersebut?
Hahah banyak banget, terutama sama dua penulis cewek—Uli dan Regi. Mereka orangnya agak parno. Yang lebih parah itu Uli (Yuliana), sempet beberapa kali susah tidur akibat nulis buku ini. Ada juga pengalaman saat menulis salah satu cerita di buku ini, dia mengalami gangguan mistis, seperti ada yang nemeni gitu saat nulis. Nah, akibat kejadian itu, dia tidak mau lagi menulis di malam hari.

– Apakah semua teman-teman di wismis bisa melihat mahluk gaib?
Nggak. Nggak semua hanya sebagain kecil anggota wismis yang memiliki kelebihan bisa melihat “mereka”.

– Bagaimana sih perasaannya ketika harus berhadapan dengan “mereka”?
Jujur, saat awal kita melihat “mereka” pasti ada rasa parno yang berlebihan karena belum terbiasa. Tapi, lama-kelaman kita terbiasa karena aktivitas “mereka” pun tidak jauh berbeda dengan manusia. Mungkin yang membedakannya hanya wujudnya, ada yang seram, ada yang tidak. Kalau saya sendiri sampai pernah susah tidur, ke kamar mandi saja minta diantar, pergi ke tempat tempat gelap harus berdua, kalau mau tidur lampu kamar anti dimatikan, dan hal itu berlanjut sampai sekarang.

– Tempat mana yang paling ingin teman-teman kunjungi selanjutnya?
Banyak banget. Indonesia itu luas dan indah. Banyak tempat-tempat bersejarah dan memiliki mitos yang kental. Salah satunya Tanah Toraja, Truyan Bali, Lawang Sewu, Gedung KAA, dan masih banyak lagi tempat-tempat yang ingin kami kunjungi. Mudah-mudah kelak bisa kami kunjungi.

– Apa yang teman-teman Wismis dapatkan dari perjalanan mistis ini?
Yang pasti, benar atau tidaknya informasi tentang mitos yang beredar, karena terkadang banyak mitos yang beredar belum tentu benar dan masih bersifat “katanya”. Nah, hal ini yang perlu kami luruskan kebenarnya. Namun, ada juga mitos yang merupakan kebudayan setempat yang harus kita lestarikan dan hormati, karena itu merupakan kekayaan budaya Indonesia dan setiap informasi tersebut bisa dijadikan wawasan tambahan bagi para peserta yang mengikuti ekspedisi kami, selain sejarah yang ada di tempat-tempat yang kami kunjungi.

– Apa harapan teman-teman Wismis dengan hadirnya buku ini?
Kami harap cita-citakan kami untuk menjadikan Wisata Mistis sebagai salah satu destinasi wisata di Indonesia bisa terwujud. Dengan adanya buku ini bisa membantu kami mempromosikan dan memberitahukan bahwa berwisata mistis tidak hanya sekadar mendapatkan sensasi dan menaikan adrenalin kita, tetapi juga bisa menambah wawasan akan sejarah dan edukasi yang diberikan dalam kegiatan ekspedisi tersebut.

 

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes:

<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>