Blog

Yoana Dianika: Mencoba Genre Horor

dheya-evils-game-dpn

dheya-evils-game-dpnKamu suka novel yang berbau horor? Bukune menerbitkan buku horor terbarunya yang berjudul Devil’s Game karya Cerberus Plouton alias Yoana Dianika. Biasanya Yoana menulis dengan tema romance, kini ia tertantang untuk menulis horor. Bagaimana kisahnya? Simak wawancara Kune dengan Yoana, yuk!

 

dheya-evils-game-blkg

Kamu suka novel yang berbau horor? Bukune menerbitkan buku horor terbarunya yang berjudul Devil’s Game karya Cerberus Plouton alias Yoana Dianika. Biasanya Yoana menulis dengan tema romance, kini ia tertantang untuk menulis horor. Bagaimana kisahnya? Simak wawancara Kune dengan Yoana, yuk!

– Halo Yoana, apa kabar? Sekarang lagi sibuk apa?
Halo. Alhamdulillah kabar baik. Untuk saat ini tidak ada kesibukan berarti selain mengembangkan ide. Hehe, karena wiraswasta jam kerjanya fleksibel, jadi bisa fokus ke nulis (eh :p )

– Bagaimana perasaannya ketika buku Devil’s Game terbit
Yang jelas, senang sekali. Apalagi konsep cover untuk saat ini lain daripada yang lain—kesannya suram gimana gitu XD Selain itu, senang banget karena yang ngonsep tulisan Jawa di covernya saya sendiri 😀

– Buku ini bercerita tentang apa?
Buku ini pada garis besarnya menceritakan tentang 5 sahabat yang di sekolahnya memiliki prestasi luar biasa, tapi mereka bosan dengan rutinitas dan popularitas yang dimiliki. Untuk menghilangkan kebosanan, mereka memainkan permainan terlarang yang harus dimainkan oleh 5 orang. Nah, mereka mendapatkan info tentang permainan terlarang ini dari radio misteri yang mengudara di jam-jam janggal.

– Novel-novel sebelumnya mengambil tema romance, kali ini kenapa mengambil tema horor?
Sebelum bergelut di romance, saya memang terlebih dulu menulis di genre horror, fantasy, dan science-fiction. Namun, belum pernah mengaplikasikannya ke tulisan panjang, dan hanya sebatas cerpen di majalah 😀

– Bagaimana Yoana menemukan ide-ide saat menulis buku ini?
Ide ini muncul saat mendengarkan mitos tentang tarian dari keratin yang bernama Bedhaya Ketawang. Mitos tentang tarian sakral tersebut: tarian itu kan ditarikan sejumlah ganjil (seingat saya 9), dan ditarikan oleh seorang gadis yang masih perawan. Nah, biasanya, bagi yang bisa melihat, ada penari tambahan—atau penari terakhir yang ikut menari bersama ke-9 penari tersebut. Selain dari tarian tersebut, ide mengenai penulisan buku ini terinspirasi dari kebiasaan musim panas yang biasa dilakukan oleh orang Jepang: Hyaku Monogatari (100 cerita). Di musim panas, biasanya orang Jepang berkumpul membentuk lingkaran dengan menghadap sebuah lilin. Lalu, mereka bercerita seram sampai sejumlah 100. Mereka percaya, setelah cerita ke-100 habis, akan ada hal janggal yang terjadi.

– Apa saja kesulitan menulis novel horor?
Kesulitan dalam menulis novel horror: takutnya, pembaca tidak takut membaca tulisan saya XD
Jadi, selama penulisan itu was-was sendiri, ‘kalau kubuat begini begini begini kira-kira gimana ya?’. Selain itu, menemukan feel yang cocok juga susah. Terlebih kalau mengetik di siang hari, nggak bisa mendapatkan feel yang cocok >_<

– Oh iya, selama menulis Devil’s Game, pernah menemui kejadian horor?
Selama penulisan Devil’s Game, Alhamdulillah nggak menemukan hal horror. Namun, selama riset, haha, pernah mengalami hal-hal janggal. Lokasi yang ada di sini adalah nyata. Rumah kosong yang saya jadikan salah satu tempat sebenarnya terinspirasi dari rumah Belanda yang sudah 15 tahun kosong. Waktu itu, saya sempat ngobrol dengan penjaga parkir di sekitar kawasan tersebut. Bapak ini bercerita banyak tentang penampakan dan penunggu rumah ini. Karena sudah kenal dengan saya, Bapak tersebut tahu kalau rumah itu akan saya jadikan setting. Lalu, waktu pulangnya, pas saya makan malam bersama ortu, jus yang saya pesan tumpah sendiri lol (semoga karena gangguan angin)

– Untuk buku ini, mengapa menggunakan nama pena “Cerberus Plouton”?
Sejak awal ingin memakai nama tersebut untuk naskah non-romance. Selain itu, ‘Cerberus’ sudah melekat sama saya untuk nama di dunia maya :p

– Dalam buku ini, ada permainan sadapti. Apa sih sebenarnya sadapti itu?
Sadapti adalah gabungan dari bahasa Kawi, yang sebenarnya: Sad=6, dan Apti=keinginan. Kalau diucapkan dengan cepat, jadinya Sadapti :p

Maksud dari 6 keinginan adalah: permainan ini harus dilakukan oleh 5 orang, lalu pemain ke-6 akan datang. Nah, manusia cenderung memiliki keinginan untuk ‘melanggar peraturan’, untuk itulah terdapat bermacam-macam peraturan yang nggak boleh dilanggar dalam permainan ini. Namun, sifat dasar manusia yang selalu ingin tahu pada akhirnya akan membuatnya mengabaikan larangan ini. Kita pernah mendengar istilah, kan: “Peraturan dibuat untuk dilanggar”. Seperti itulah konsep yang ingin saya angkat untuk Sadapti.

– Apa permainan sadapti itu nyata? Pernah mencoba memainkannya?
Permainan Sadapti murni karya fiksi yang saya ciptakan. Hanya saja, permainan berdasarkan pada budaya yang benar-benar ada. Saya sendiri belum pernah berkumpul untuk membicarakan cerita horror dengan ritual lilin dan sebagainya. Namun, beberapa teman pernah melakukannya. Dan entah kebetulan atau bukan, beberapa dari teman-teman yang pernah bercerita seram sambil membentuk lingkaran mengalami hal-hal seram XD

– Bagaimana Yoana melakukan riset tentang sadapti?
Untuk riset tempat: seperti yang saya ceritakan, saya mendatangi sebuah rumah tua kosong dan bertanya macam-macam dengan bapak parkir di sekitar rumah tersebut. Salah satu hasil wawancara saya jadikan satu scene di novel ini.

Lalu, untuk permainannya sendiri, ini adalah gabungan dua budaya: Jepang dan Jawa. Di mana dari budaya Jawa saya terinspirasi dari tari Bedhaya Ketawang, dan Jepang terinspirasi dari Hyaku Monogatari.

– Ada pesan atau tips untuk para pembaca Devil’s Game yang ingin mencoba permainan sadapti?
Untuk yang ingin memainkan sesuatu yang ‘mirip’ dengan Sadapti—tapi efeknya kemungkinan nggak seberbahaya Sadapti—bisa mengumpulkan teman-teman sebanyak mungkin. Lalu, ajak mereka membentuk lingkaran, ditambah lilin juga oke. Dan bersiaplah untuk bercerita secara bergantian. Efek langsung yang dirasakan mungkin hanya merinding. Efek nggak langsungnya, mungkin diikuti dan kalian tidak merasa, efek langsung selanjutnya: penampakan atau disamperin aroma-aroma aneh XD

Atau, siapa tahu Sadapti ini benar-benar permainan maut. Coba ikuti step-step yang tertulis di buku, dan mainkan saat malam, di tempat sepi yang gelap. Risiko ditanggung yang memainkan 😀


devils-gamePenasaran seperti apa horornya? Ikuti kisahnya dalam novel Devil’s Game karya Yoana Dianika ini. Ketegangan akan siap menghantuimu!

beli

bukune di shopee