Sadapti

Sadapti. Permainan tua ini terlahir bersamaan dengan tari Bedhaya Ketawang yang sampai sekarang masih dilestarikan oleh keraton Yogyakarta. Berbeda dengan tari Bedhaya Ketawang yang sampai sekarang masih bisa dinikmati untuk umum, permainan Sadapti pernah sengaja dimusnahkan oleh para aliran putih yang tahu betapa berbahayanya permainan ini.

Cerita ini berasal dari ratusan, atau bahkan ribuan tahun yang lalu. Sesaat setelah pulau Jawa—yang awalnya dihuni para raksasa pemakan manusia—ditaklukkan oleh Prabu Ajisaka, tanah subur dan indah ini pun mulai dihuni oleh manusia.

Tidak semua manusia bisa menempati Pulau Jawa, hanya mereka yang memiliki kesaktian yang bisa menempati tanah bekas tempat tinggal para raksasa ini. Tak sedikit dari mereka menjadikannya sebagai tempat bertapa. Mencari ilmu dan mencoba kelebihan dari ilmu yang mereka tempa.

Ratusan tahun setelahnya, kehidupan di tanah Jawa berkembang seiring berjalannya waktu. Mereka yang sakti dan berilmu tinggi mulai berkurang. Hanya meninggalkan hasil kebudayaan yang masih dipakai oleh masyarakat modern.

Tak sedikit seni sakral terbentuk dari kebudayaan lama tersebut. Tarian, ritual, lagu, hingga permainan berbahaya, yang seharusnya ditinggalkan. Beberapa lagu memiliki kekuatan magis yang tidak disadari orang awam yang dapat memanggil arwah penasaran.

Sadapti. Permainan tua ini terlahir bersamaan dengan tari Bedhaya Ketawang yang sampai sekarang masih dilestarikan oleh keraton Yogyakarta. Berbeda dengan tari Bedhaya Ketawang yang sampai sekarang masih bisa dinikmati untuk umum, permainan Sadapti pernah sengaja dimusnahkan oleh para aliran putih yang tahu betapa berbahayanya permainan ini.

Dahulu, ada seseorang dari luar Jawa yang tidak percaya bahwa tanah Jawa pernah ditinggali para raksasa pemakan manusia. Untuk membuktikan kebenaran cerita itu, orang tersebut mencoba berkunjung ke tanah Jawa.

Dalam perjalanannya menyusuri Jawa, orang tersebut sempat menyaksikan tari Bedhaya Ketawang yang saat itu baru tercipta, dan baru pertama kali ditarikan di keraton dengan syarat-syarat yang janggal: jumlah penari harus ganjil, dan penari harus perempuan yang masih perawan.

Ketika melihat tarian sakral tersebut, orang itu melihat ada seorang penari gaib yang datang memasuki arena tari. Penari gaib tersebut menggenapi jumlah penari.

Mendapatkan penglihatan langka tersebut, orang itu mulai terobsesi untuk bisa menciptakan sesuatu yang juga sakral, dan bisa dinikmati banyak orang. Hingga akhirnya terbersitlah ide berisiko itu.

Orang tersebut menemukan sebuah gua yang—konon kata orang-orang—angker. Dia menyepi di sana untuk mematangkan ide yang melintas di kepalanya. Dia menginginkan sesuatu yang tidak biasa. Sesuatu yang bisa mendatangkan hal gaib.

Akhirnya, keinginan orang tersebut terjawab. Salah satu makhluk gaib penunggu gua menampakkan wujudnya, dan menjawab keinginannya. Dia berjanji akan muncul tiap kali ada lima manusia bercerita seram dan membentuk lingkaran.

Sejak saat itu, sang pertapa mulai bersekutu dengan setan. Pertapa tersebut tidak pernah tahu, bahwa setan tidak pernah memberikan sesuatu yang gratis tanpa risiko berbahaya kepada manusia.

Orang-orang menyebutnya Sadapti. Namun, aslinya, pertapa tersebut memberi nama Sad Apti. Dua gabungan dari bahasa Kawi, Sad yang berarti 6, dan Apti yang berarti keinginan. Permainan yang dilakukan oleh 5 orang, di mana nantinya akan datang satu makhluk gaib yang tak diundang.

Permainan itu pun mulai dikenal. Orang-orang mulai penasaran dan memainkannya. Mereka ingin tahu, hal apakah yang akan terjadi setelah lima orang berkumpul untuk bercerita seram. Mereka, yang hanya iseng melakukannya itu, tidak pernah tahu bahwa energi yang terkumpul di dalam lingkaran itu bisa menarik hal-hal gaib saat lima cerita seram mulai dituturkan.

“Hai keturunan Adam dan Hawa, aku menjamin permainan ini tidak akan hilang selamanya, walaupun banyak yang ingin memusnahkannya. Namun, untuk membuat permainan ini abadi, aku mengajukan syarat yang harus kamu tepati, yang harus kamu tuturkan kepada manusia, dan tidak boleh terlupa saat ingin memainkannya:

  1. Harus ada lima pencerita yang membentuk lingkaran, tidak boleh lebih atau kurang.
  2. Harus ada lilin atau api yang menyala saat mereka bercerita, dan dipadamkan saat mereka selesai becerita
  3. Sampaikan cerita seram yang berisi larangan di dalamnya.
  4. Lakukan permainan ini di tempat angker.”

***

Janji itu benar. Walaupun banyak pihak yang ingin menghancurkan permainan berbahaya bernama Sadapti tersebut, anehnya permainan itu tetap muncul terus-menerus.

Dalam Devil’s Game, ada lima sahabat yang penasaran dengan permainan itu, tanpa tahu bahaya yang mengintai mereka. Mereka datang ke tempat angker, bercerita seram dengan ditemani lilin untuk membuktikan kebenaran dari mitos yang beredar.

Rane, Devina, Nanda, Rhodeo, dan Abhirama hanyalah segelintir orang yang penasaran memainkan. Namun, akan selalu ada orang yang ingin memainkannya. Permainan yang menantang maut bernama Sadapti.

Beranikah kamu memainkannya?
Bila nyawa taruhannya.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes:

<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>