Blog

Satria Ramadhan: Kesan pertama itu kan penting lho!

satria-luar

satria-luarMemulai sesuatu yang baru itu memang nggak mudah. Seperti halnya mulai menulis untuk sebuah karya. Hal inilah yang dirasakan juga oleh Satria Ramadhan. Banyak hal yang harus ia lalui sebelum buku perdananya “lahir”. Seperti apa, ya, kira-kira ribetnya? Yuk, kita tanya langsung ke orangnya!

satria

Memulai sesuatu yang baru itu memang nggak mudah. Seperti halnya mulai menulis untuk sebuah karya. Hal inilah yang dirasakan juga oleh Satria Ramadhan. Banyak hal yang harus ia lalui sebelum buku perdananya “lahir”. Seperti apa, ya, kira-kira ribetnya? Yuk, kita tanya langsung ke orangnya!

– Hai, Satria. Apa kabar?
Halo Kak Kune, Alhamdulillah baik nih. Kak Kune gimana?

– Dengar-dengar kamu sedang menulis buku ya di Bukune? Judulnya apa, nih?
Wah, iya Kune, kok tau, sih?! Kepo nih pasti. Ehm. Judulnya tadinya mau Angling Dharma, tapi nggak jadi, jadinya Love Rebound deh.

– Sebelum ini, sudah pernah nulis buku?
Pernah Kune, tapi buku tabungan. Hehehe maap. Baru kali ini nih nulis buku. Duh, jadi grogi ngetiknya.

– Apa sih, yang membuat kamu pada akhirnya mau menulis?
Apa ya? Jadi, saya ini orangnya pelupa gitu deh, tapi di sisi lain banyak kisah saya yang unik, nggak semua orang ngalamin. Daripada lupa dimakan waktu, makanya berminat nulis buku deh. Biar nanti bisa dibaca sama anak-cucu. Ehehe.

– Ceritakan dong, awal mulanya kamu bisa menulis di Bukune?
Jadi awalnya saya suka iseng nulis cerita pengalaman pribadi gitu di blog. Respon pembaca pun bagus, bikin saya ketagihan nulis waktu itu. Setelah beberapa bulan kemudian, tiba-tiba Edo (editor Bukune) nawarin saya buat nulis buku. Yaudah deh, tanpa pikir panjang, langsung terima tawarannya.

– Ceritakan sedikit dong, isi tentang buku yang akan rilis ini?
Buku Love Rebound ini isinya tentang ketakutan-ketakutan saya yang akhirnya malah bikin saya susah buat dapet pacar, Kune. Dan isinya, berkaitan dengan hobi saya, yaitu main basket.

– Kendala apa yang kamu rasakan saat menulis buku ini dan bagaimana kamu mengatasinya?
Kendalanya? Ehm, apa ya, biasanya sih waktu sama mood nulis aja. Kadang punya waktu, tapi nggak punya mood nulis. Kadang punya mood nulis, tapi nggak punya waktu. Dan cara ngatasinnya, saya selalu ngomong gini dalam hati: “Heh! Selesain! Kalau enggak, nanti pembaca banyak yang kecewa! Jangan PHP-in pembaca!” sama gini sih: “Buruan selesain! Emang nggak mau bukunya sejajar sama Raditya Dika?!”

– Ceritakan dong, tentang proses kreatif penulisan buku ini?
Wuiiih, prosesnya lumayan rumit. Saya harus berkali-kali nongkrong di coffee shop buat nulis. Soalnya kalau di rumah, ujung-ujungnya tidur. Begitu draft naskah selesai pun saya masih belum tenang karena harus revisi. Nah, di bagian revisi inilah, mungkin saya udah 5 kali rewrite tulisan sampai akhirnya naik cetak. Maklum, buku pertama, takut ngecewain, makanya hati-hati. Kesan pertama itu kan penting lho.

– Menurut kamu, susah nggak sih nulis komedi?
Hmm, apa ya, sebenarnya nggak susah, tapi susah (lho?!). Kelemahan novel komedi kan kalau kita memilih diksi yang kurang tepat, tulisannya jadi nggak lucu. Nantinya malah timbul omongan pembaca, “Ih, apaan sih?! Garing banget!”. Nah, susahnya ya itu, kita harus tau diksi yang tepat dan harus paham betul sesuatu yang lucu itu seperti apa. Sense of humor-nya harus tinggi. Hehe.

– Siapa “kiblat” kamu dalam menulis komedi? Alasannya?
Kiblat saya Raditya Dika! Halo bang Dika! Hehehe. Iya, soalnya dari sekian banyak novel komedi yang saya baca, yang gaya tulisannya paling enak dibaca ya Raditya Dika. Santai, dan pesannya dapet. Dan hebatnya, beberapa kali saya baca tulisan dia, tetep aja saya ngakak. Padahal saya jarang ngakak.

– Bagaimana caranya agar tulisan yang kamu tulis benar-benar terasa komedinya, tanpa dipaksakan?
Caranya? Rahasia. Oke maap. Menurut saya sih, seseorang bisa tertawa, kalau apa yang kita ceritakan masuk akal. Syukur-syukur kalau mereka pernah ngalamin atau ngeliat peristiwa itu sendiri. Jadi, untuk membuat pembaca tertawa, saya nulis sesuai dengan kejadian sebenarnya aja, lalu main di diksi atau dilebay-lebayin. Kalau memang kejadiannya lucu, pasti ketawa kok. Kalau memang nggak lucu, ya nggak usah dipaksain buat masukin unsur “lucu”-nya. Nanti malah ngerusak fokus pembaca.

– Selanjutnya, kamu mau nulis apa lagi?
Saya mau nulis… skripsi dulu nih Kune. Ehehehe. Tapi penginnya sih tetep nulis tentang pengalaman pribadi, karena masih banyak cerita yang belum saya tuangkan dalam buku Love Rebound.

– Apa sih, harapan kamu akan hadirnya buku ini?
Harapannya? Semoga buku saya dapat memberikan inspirasi, pelajaran, dan dapat mengharumkan nama bangsa. Merdeka! Yang terpenting, semoga para pembaca suka. Hehe.

Bagaimana, seru ‘kan ngobrolnya? Oke, deh, Satria! Semoga begitu bukunya “lahir” bisa langsung sejajar ya dengan buku-buku Raditya Dika. Aminn…


love-reboundLove Rebound karya Satria Ramadhan berisi cerita Satria tentang kehidupan cinta dan juga hobinya. Ibarat tanding basket, sanggup nggak ya, Satria untuk mendapatkan “poin” cinta dari seseorang?