Blog

Petualangan Bersama Dokter Gokil

Riva paling takut sama orang gila. Padahal sebagai dokter ia harus memeriksa pasien sakit jiwa. Ketika ia harus memasuki bangsal, ia malah menari-nari kayak orang gila. Serentak, sederet pasien pun menunjuk ke arahnya dan berkata, “Ih…kok dokternya yang gila.”

Pengalaman ini tak terlupakan bagi penulis buku Riva The Explorer, Ferdiriva Hamzah alias Riva sewaktu bertugas jadi dokter di Medan. Seklumit cerita yang konyol itu dapat kalian temukan dalam bukunya, Cado-Cado yang terdiri dari 14 bagian. Dijamin, kalian semua bakalan tertawa terpingkal-pingkal.

“Saya sebenarnya takut sama orang gila. Sebenarnya saya sudah keringat dingin dan pucat. Saya akhirnya mengikuti saran teman saya yang mengatakan agar saya pura-pura gila saja. Ya sudah, ketika saya memeriksa pasien pun saya menari-nari menirukan tokoh dalam film sound of music. Saya pun berlompat-lompat ke sana kemari,” ucap pria bertubuh tinggi itu.

Alhasil sang suster penjaga pun terkejut dan memanggilnya. Suster tersebut berkata kalau para pasien yang barusan diperiksa hanya menderita depresi. Riva pun terkejut, “Wah kalau gitu kenapa dokternya yang lebih gila?” jerit Riva disambut gelak tawa pengunjung Pesta Buku Jakarta 2009, Sabtu (4/7).

Selain itu, Riva dan teman-temannya terkenal jahil dan suka bertindak konyol. Suatu ketika, ia mempunyai teman yang mempunyai masalah dengan bau badan. Bukan malah malu, sang temannya malah bangga.

Riva pun memasukkan bedak anti bau ketiak di tas temannya itu. Malamnya, ketika Riva bertandang ke rumah teman tersebut, Riva terkejut karena temannya malah memoleskan bedak tersebut di wajah. “Waahhhhh,” jerit Riva.

Masih banyak kekonyolan yang dilakukan seorang dokter sejak ia masih duduk di bangku kuliah. Baru setengah buku saja, pembaca sudah tertawa terpingkal-pingkal. Sewaktu pertama kali ingin menulis buku ini, Riva bercerita kepada kedua orang tuanya. Awalnya mereka terkejut, karena buku yang ditulis anaknya bukanlah buku kedokteran, tapi kok buku humor.

“Habis gimana? Sejak dulu saya suka menulis, dan sewaktu di Medan pun saya sempat menjadi kolumnis di sebuah surat kabar,” ucapnya.

Gaya penulisan lepas dan spontan, itulah yang menjadi ciri khas buku sang dokter ini. Riva pun mengakui buku ini mempunyai kemiripan dengan gaya Raditya Dika, penulis buku KambingJantan.

Awalnya, Riva sering menulis di blog. Ia pun mencoba mengirim karyanya kepada Radith, ketika itu juga Radit setuju dengan ide-ide Riva.