Blog

Yoana Dianika; Penulis Muda yang Produktif dengan Berbagai Genre

buku-yoana-thumb

buku-yoana-thumb“Produktif atau tidaknya seorang penulis sebenarnya bergantung pada diri sendiri.”
Kalimat tersebut dilontarkan oleh Yoana Dianika, penulis muda yang mampu menulis dalam berbagai genre. Yoana pernah menulis novel dengan genre romance, fantasy, sampai horor. Bagaimana serunya pengalaman Yoana saat menulis? Ikuti obrolan Kune bersama Yoana, yuk!

buku-yoana

“Produktif atau tidaknya seorang penulis sebenarnya bergantung pada diri sendiri.”
Kalimat tersebut dilontarkan oleh Yoana Dianika, penulis muda yang mampu menulis dalam berbagai genre. Yoana pernah menulis novel dengan genre romance, fantasy, sampai horor. Bagaimana serunya pengalaman Yoana saat menulis? Ikuti obrolan Kune bersama Yoana, yuk!

– Halo Yoana, apakabar?
Halo juga. Kabar baik di sini 😀

– Kamu kan baru menerbitkan novel Devil’s Game yang bergenre horor, bagaimana nih responnya dari pembaca dan teman-teman?
Respon pertama selalu: “Wow, Sadapti itu beneran ada ya?” :p

– Ceritakan dong pertama kali kamu mulai menulis?
Awal menulis—untuk yang serius—itu saat SD kelas 6, mau menginjak SMP. Itu pun iseng. Ada lomba menulis cerpen anak oleh salah satu stasiun TV swasta di Indonesia. Waktu itu, lombanya diumumkan di salah satu majalah anak-anak yang rutin berlangganan. Lalu, iseng kirim, dan waktu itu sempat menjadi juara hiburan. Namun, sebelum itu, nulis di buku diary. Kalau sekarang baca ulang diary-nya, isinya geje. Hehe

Hujan Punya Ceri 4f72cdc374227– Kira-kira sudah berapa tahun kamu jadi penulis?
Wah, untuk waktu pastinya berapa tahun jadi penulis tidak bisa menghitung. Namun yang jelas, sampai sekarang pun masih belajar dan berusaha untuk bisa menjadi yang lebih baik ☺

– Ada pengalaman seru apa selama kamu jadi penulis?
Pengalaman seru, yang jelas bertemu dengan orang-orang baru. Ngobrol dengan orang-orang—yang bahkan—berbeda budaya untuk riset. Atau, kalau sedang menulis horor, kadang sampai mendatangi tempat yang agak creepy biar feel-nya dapat :p

– Lebih seru dibilang penulis apa sih? Romance? Horor? Atau apa?
Lebih seru dibilang penulis horor. Entah kenapa, kalau dibilang penulis horor, kesannya menakutkan dan seram. Hehe. Kalau penulis romance, kesannya lebih sendu dan mellow :p

– Ide kamu selama ini datangnya dari mana?
Selama ini, ide untuk menulis datang paling banyak dari kehidupan di sekitar. Saya senang mendengarkan curhatan dan cerita orang lain. Saya senang bertemu dengan orang baru, terlebih dengan mereka yang memiliki latar budaya berbeda dengan saya. Pada saat ngobrol dengan mereka, terkadang muncul beberapa ide untuk dituliskan—lalu dikembangkan.

Last Minute in M 51123a3ed9e00– Apa, sih, rahasianya biar tetap produktif?
Untuk rahasia, tidak ada. Karena produktif atau tidaknya seorang penulis sebenarnya bergantung pada diri sendiri. Banyak sekali orang memiliki ide di kepala, tapi karena nggak punya niat untuk mencapai tujuan—maka hingga bertahun-tahun akhirnya ide mengendap dan tidak jadi naskah.
Jadi, agar bisa produktif, yang pertama dilakukan mungkin dengan disiplin kepada diri sendiri. Misal, memberi target: untuk sebuah buku yang akan ditulis—akan memerlukan waktu berapa lama (termasuk riset, juga waktu penulisan). Dengan memberi batas waktu dalam pengerjaan, maka kita bisa menjadi disiplin dengan diri sendiri.

– Selain novel bertema horor, novel apalagi yang pernah Yoana terbitkan?
Pertama kali buku terbit, genrenya fantasy—walaupun waktu itu tulisannya masih geje dan belum matang. Selanjutnya, bergenre science-fiction. Lalu, sebelum horor, malah menulis dengan genre romance :p

– Kamu tandanya sudah pernah mencoba beberapa genre ya. Genre apa sih yang menjadi favorit kamu?
Paling suka menulis genre fantasy dan horor. Entah kenapa, selalu suka jika menulis hal-hal yang di luar nalar.

devils-game– Paling sulit dan menantang itu saat menulis genre apa?
Menurut saya, semua genre memiliki tingkat kemudahan dan kesulitan masing-masing. Terutama genre-genre yang belum terlalu familiar di Indonesia.
Namun, menurut saya, dua tersusah dalam menulis itu genre romance dan horor. Dalam menulis romance, harus bisa mendalami perasaan orang saat jatuh cinta, patah hati, merindukan seseorang, dsb. Belum lagi, bila berhadapan dengan adegan yang menurut kita masuk akal dan sweet, tapi menurut orang lain klise :p
Menulis horor, harus bisa membuat orang takut, sampai terbayang-bayang apa yang sudah kita tulis—sampai orang gemas dengan buku yang sudah ditulis.

– Ada nggak genre yang penasaran banget ingin kamu coba?
Ingin sekali mencoba genre thriller, tapi untuk remaja, yang tanpa adegan dewasa ☺ Jadi, biar nanti pembaca mikir dari awal sampai akhir. Dan karena diperuntukkan remaja, pengin membikin bacaan yang mikir, tapi nggak berat. Namun, bingung juga—itu bacaan kayak gimana ya. Hehe.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes:

<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>