KliniKonsultasi
Klinik Primbon

Mau tahu watak atau sifatmu berdasarkan hari lahir? Atau, ingin menguak lebih dalam tentang pribadimu berdasarkan penanggalan Jawa? Buruan klik di sini atau klik saja menu KliniKonsultasi di atas, karena Bukunè akan membantu menjawab semua pertanyaanmu seputar Primbon. Kami tunggu ya!

Kirim Naskah

Bagi kamu yang punya naskah dan ingin diterbitkan, jangan ragu untuk mengimkannya kepada kami. Info lebih lengkap mengenai pengiriman naskah bisa kamu lihat di sini!



   
  Cari buku :
   

AGENDA


KUESIONER!!!

Ayo, ikutan berpartisipasi mengisi kuesioner Bukuné. Pertanyaannya simple aja kok. Nggak percaya? Coba aja klik di sini!

Bosan dengan foto profil kamu yang itu-itu aja? Pengen ngerubah foto kamu biar lebih seru dan dapet hadiah? Nah, mendingan ikutan kuis Manipulasi Foto Itu Mudah di Bukune. Ikutan kuisnya? Klik di sini!


Book of The Month

Takut? atau ragu berhadapan langsung dengan si 'dia'. Udah! Nggak usah repot-repot, kamu bisa mengungkapkan isi hati juga uneg-uneg dan apapun perasaan kamu  lewat 'Twitter'. Seru loh, mau coba? Klik di sini

 






Image


 

LOWONGAN

Hey, kamu yang berminat untuk bergabung bersama kami, buruan deh apply lamaran lengkapmu ke sini!

 
   
 
PDF
Personal Literature arrow Badung Ke Sarung



Badung Ke Sarung


Price: Rp 24,000.00


Judul: Badung Ke Sarung
Penulis: Nailal Fahmi
Tebal: 216 hal
Ukuran: 11,5 x 19 cm
ISBN: 602-8066-38-9
Harga: Rp24.000

Sinopsis:

P-E-S-A-N-T-R-E-N. Apa yang ada di kepala orang ketika kata itu disebut? Mungkin ada sebagian orang yang menganggap pondok pesantren sebagai tempat berkumpulnya orang baik, rajin mengaji, dan taat pajak. Tapi gue kurang setuju dengan pendapat itu. Menurut gue, anak-anak pesantren gak semuanya baik. Kebanyakan dari mereka adalah anak yang terkekang. Itulah kesimpulan spontan-uhuy yang gue ambil gak berapa lama setelah masuk pesantren.

Badung Ke Sarung: Santri Badung Tanpa Sarung bercerita tentang Nailal, santri di sebuah pesantren yang terletak di kota besar. Di pesantren inilah dia menemukan teman-temannya yang juga badung. Mulai dari bolos mengaji sampai kabur tengah malam hanya demi nonton layar tancep. Hasilnya, mereka kena hukuman zikir semalaman suntuk. Di pesantren ini juga Nailal menemukan "makna kebebasan" dalam hidupnya.